Beramallah Dengan Sungguh-Sungguh, Ikhlas, dan Jauhilah Syirik

Beramallah Dengan Sungguh-Sungguh, Ikhlas, dan Jauhilah Syirik

0 2.247

Sesungguhnya ikhlas merupakan kunci dakwah para Rasul Alaihimussalam. Sebab, dengan sikap ikhlas yang ada dalam hati semua ibadah seseorang akan diterima. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama.” (QS. Al–Bayyinah: 5).

Allah Ta’ala berfirman,,

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

“Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik)” (QS. Az–Zumar :3).

Dalam surat lain Allah Ta’ala berfirman,

اَلَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al–Mulk: 2).

Dalam menafsirkan ayat ini, Al-Fudhail bin Iyadh berkata,“Maksudnya adalah amalan yang paling ikhlas dan yang paling benar.”

Orang-orang bertanya kepadanya, “Wahai Abu Ali, apa amalan yang paling ikhlas dan yang paling benar itu?”

Maka ia menjawab,

“Sesungguhnya amalan perbuatan jika dikerjakan dengan ikhlas tapi caranya tidak benar, maka ia tidak diterima. Begitu juga halnya, jika dikerjakan dengan cara yang benar tapi tidak ikhlas maka tidak akan diterima pula, sampai amalan tersebut dikerjakan dengan ikhlas dan benar.

Ikhlas dalam beramal

Ikhlas adalah amalan tersebut dikerjakan hanya untuk Allah semata, sedangkan benar adalah amalan yang sesuai dengan Sunnah (Hadits).”

Kemudian Fudhail membaca firman Allah Ta’ala,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al–Kahfi: 110).

Firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan.” (QS. An–Nisaa`: 125).

Ibnu Katsir berkata, “Maksudnya adalah orang yang beramal dengan ikhlas hanya untuk Allah Ta`ala, maka ia beramal dengan penuh keimanan dan berharap pahala dari Tuhannya.”

Dengan demikian, Islam adalah mengikhlaskan tujuan dan amalan hanya untuk Allah. Sedangkan Ihsan adalah meniti jalan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mengikuti sunnahnya.

Adapun orang yang beramal tidak karena Allah Ta’ala, maka Allah menceritakan tentang mereka dalam Al-Qur`an,

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.”(QS. Al-Furqaan: 23).

Maksudnya adalah amalan yang tidak sesuai dengan Sunnah atau dengan amalan tersebut seseorang berharap selain kepada Allah Ta’ala.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallah Anhu sebuah hadits secara marfu,

قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِيْ غَيْرِيْ تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Aku tidak membutuhkan sekutu dan kesyirikan. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang dicampuri dengan kesyirikan kepada-Ku, maka Aku akan meninggalkannya bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim).

Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صَلَّى يُرَائِى فَقَدْ أَشْرَكَ، وَمَنْ صَامَ يُرَائِى فَقَدْ أَشْرَكَ، وَمَنْ تَصَدَّقَ يُرَائِى فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang mengerjakan shalat untuk dilihat orang maka ia telah berbuat syirik, dan barangsiapa yang berpuasa untuk dilihat orang maka ia telah berbuat syirik, dan barangsiapa yang bersedekah untuk dilihat orang maka ia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad).

Diriwayatkan dari Umar bin Khathab, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu aliaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan dari apa yang diniatkannya. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang akan dicapainya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan niat hijrahnya.” (Muttafaq ‘Alaihi).

Wahai para hamba Allah!

Sesungguhnya ikhlas adalah amalan hati yang penting dan termasuk dalam definisi iman. Amalan hati mempunyai kedudukan yang agung, bahkan perbuatan hati lebih penting dan didahulukan daripada amalan panca indra.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berbicara tentang amalan hati,

“Amalan hati merupakan pondasi iman dan kaidah pokok agama, seperti mencintai Allah dan Rasul-Nya, bertawakal kepada-Nya, ikhlas dalam menjalankan perintah agama karena Allah, bersyukur kepada Allah, bersabar atas hukum yang ditetapkan-Nya, takut dan berharap kepada-Nya.

Sikap dan perbuatan ini wajib dilakukan oleh setiap hamba berdasarkan kesepakatan para ulama.”

Mengingat penting dan agungnya perbuatan tersebut, sebagian ulama mengatakan,

“Saya berharap seandainya ada seseorang dari ulama yang memusatkan kesibukannya untuk mengajarkan kepada manusia tentang tujuan mereka beramal, ia duduk mengajarkan tentang niat, bukan yang lain.

Namun, sayangnya kebanyakan dari mereka menyia-nyiakan perkara ini.”

Sehingga, banyak orang yang meremehkan ilmu ini yang mana dengannya Allah memberi manfaat bagi semua negeri dan bagi para hamba-Nya.

Jika orang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya tidak dengan niat yang ikhlas karena Allah Ta’ala, sesungguhnya orang itu mendapat ancaman dari Allah pada hari kiamat nanti.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ -يَعْنِي رِيحَهَا

“Barangsiapa menuntut ilmu tidak berharap kepada Allah Ta`ala melainkan berharap untuk mendapatkan dunia saja, maka ia tidak akan mencium aroma surga pada Hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud).

Allah Ta’ala Maha Mengetahui yang ghaib dan yang tersembunyi di dalam hati. Dia tidak menilai bentuk dan harta yang dimiliki hamba-Nya. Dialah Yang Memilki keutamaan dan Maha Memberi nikmat.

Allah Ta’ala menilai apa yang ada di dalam hati hamba-Nya berupa iman kepada-Nya, membenarkan utusan-Nya, dan mengamalkan apa yang menjadi konsekuensi dari dua perkara tersebut.

Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Shakhr Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak memandang bentuk tubuh dan rupa kalian, akan tetapi Dia memandang hati kalian dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim).

Masih banyak lagi hadits yang menyangkut permasalahan dalam bab ini.

Singkatnya, segala keuntungan dunia –sedikit atau banyak- akan menarik perhatian hati. Jika hati terlalu sibuk dengannya, maka kemurnian hati akan pudar dan keikhlasan pun akan lenyap dari seseorang.

Setiap manusia tidak lepas dari mengharap keuntungan dunia, apalagi jika dipompa oleh hawa nafsu. Sedikit sekali amalan ibadah seorang hamba bersih dari keinginan untuk mendapatkan keuntungan duniawi tersebut.

Ya Allah, jadikanlah amal ibadah kami benar dan ikhlas hanya mengharap wajah-Mu Yang Mulia. Terimalah amalan ibadah kami yang sedikit ini, berilah keberkahan di dalamnya wahai Zat Yang Maha Penyayang.

Semoga shalawat serta salam selalu tercurah pada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para shahabatnya.

Dikutip dari kitab Durus Al-Am karya Syaikh Dr. Abdul Malik Al-Qasim.

Beramal dalam bulan Ramadhan

Umat muslim diberikan kesempatan yang istimewa sebulan penuh untuk beramal sebaik baiknya. Sebagai seorang muslim tentu tidak menyepelekan kesempatan ini. Dan tidak pilih pilih dalam beramal. Bersungguh sungguh diawal kemudian bermalas malas di tengah atau diakhir. Semoga kita semua diberikan kemudahan oleh Allah untuk senantiasa beribadah di bulan suci dan penuh kemuliaan Ramadhan tahun ini.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.