Kisah Sembuh dari Kanker Ria Irawan, Berfikir Positif Kuncinya

Penyakit kanker merupakan penyakit kronis yang bisa menyerang siapa saja. Laporan yang dirilis oleh International Agency for Research on Cancer untuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan satu dari 5 laki-laki dan 1 dari 6 perempuan di dunia bakal mengalami kanker.

Kanker adalah penyakit yang terjadi akibat sel-sel normal membelah tanpa terkendali dan menyerang jaringan sehat. Setelahnya, sel abnormal tersebut bertumbuh menjadi sebuah jaringan baru yang disebut tumor

Banyak hal yang perlu diketahui oleh pasien dalam proses penyembuhan. Tidak sedikit yang pasrah karena mahalnya biasa pengobatannya.

Berikut kisah inspiratif dari Ria Irawan yang sembuh dari kanker, Ria Irawan tak butuh waktu lama untuk berkarya lagi. Baik sebagai aktris maupun produser. Sebagai aktris senior, Ria juga dipercaya menjadi salah seorang perumus standar kurikulum perfilman atau standar kompetensi kerja nasional Indonesia (SKKNI) di bidang film.

Tahun lalu, perempuan yang main film sejak usia 4 tahun itu mengaku punya list proyek hingga 30 judul film. Dia mengerjakan sebagian proyek yang paling memungkinkan. Beberapa di antaranya merupakan film layar lebar yang tayang awal tahun ini.

Istri Mayky Wongkar tersebut kerap diminta mengisi peran, meskipun minor, agar bisa terlibat sebagai mentor juga. ’’Mereka ingin film itu tetap dalam jalurnya dengan kehadiranku,’’ ungkap Ria.

Selain itu, Ria dipercaya menjadi produser di sejumlah film pendek untuk platform streaming. Namun, untuk sementara, dia menghindari film yang bercerita tentang penyakit. Khususnya kanker. Menurut dia, sebagian besar film dengan tema tersebut masih salah kaprah dalam menampilkan kehidupan dan perjuangan pasien kanker. ’’Mereka digambarkan lemah, enggak bisa apa-apa. Pada salah bikinnya,’’ tutur pemain film Kuambil Lagi Hatiku itu.

Sebagai gantinya, Ria ingin memproduksi film yang meluruskan image kanker. Setidaknya yang sesuai dengan apa yang dialaminya. Dia masih bisa beraktivitas meski harus menjalani pengobatan. Prosesnya pun tidak semengerikan yang dibayangkan orang. Asalkan ikhlas dan yakin bisa sembuh, penyakit kanker akan takluk sendiri. ’’Kalau gue bikin film, jangan bayangin deh ada orang botak yang muntah-muntah,’’ kelakarnya.

Yang masih jadi tantangan buatnya adalah menentukan genre. Jika salah memilih genre, Ria khawatir pesan positif yang ingin disampaikan malah disalahpahami penonton. ’’Kalau aku bikin komedi, entar malah dikira ngejek. Nggak punya empati,’’ ujarnya. Di sisi lain, Ria sangat anti jika harus mendramatisasi kisah kanker dalam genre drama.

Berikut wawancara yang dikutip dari harian JawaPos

VONIS kanker diterima beda oleh setiap penderitanya. Buat aktris Ria Irawan, 49, kanker bukan akhir segalanya. Dia justru membuatnya lebih hidup setelah melewati dua kali masa dengan kanker kelenjar getah bening. Dia pun berangan-angan agar kisah hidupnya ini bisa menjadi inspirasi bagi penderita lain. Berikut obrolan Jawa Pos dengan bintang film Arisan! 2 tersebut beberapa waktu lalu.

Halo, senang melihat Kak Ria sehat lagi. Apa kegiatannya sekarang?

Aku sekarang sibuk sebagai asesor perfilman. Khususnya di bidang pemeranan. Aku juga certified hypnotherapist.

Soal hipnoterapi, apa yang memotivasi Kak Ria mengambil sertifikasi tersebut?

Waktu itu, kata dokter, untuk metastasis kankerku, benjolannya menyebar di tempat yang sulit. Dia bilang operasinya susah banget. Tempatnya di pembuluh darah semua. Sesimpel itu ngomongnya.

Dokter lalu nyaranin untuk belajar hal baru supaya bisa menyembuhkan sendiri dari dalam (self-healing). Banyak orang bilang, siapa yang bisa mengatur emosinya bisa membunuh penyakitnya.

Bagaimana awalnya dulu ketika tahu ada kanker dan muncul lagi setelah dinyatakan bersih?

Sebenarnya dulu kelihatan ada yang bermasalah. Kalau jalan, kaki sering kepentok. Pernah waktu sudah sembuh, kakiku keseleo dan kankerku relaps lagi. Aku bilang ke dokter, mungkin karena aku keseleo dan jatuh ini, kankerku relaps lagi. Dokter menjawab, itu salah. Sebenarnya aku sudah dikasih kode bahwa tubuhku ini nggak seimbang. Makanya, muncul kanker. Salahnya, aku nyalahin orang lain dong. Sok tahu juga. Baru tahu juga kalau biasanya orang-orang yang keras kepala, perfeksionis, dan mau menang sendiri itu rentan kena penyakit. Kalau depresi, pasti paru-paru yang kena. Kalau egosentris, jantung yang kena. Kalau multitasking, limpa yang kena. Jadi, sebenarnya semua bersumber dari diri kita, pikiran kita.

Setelah didiagnosis kanker waktu itu, apa saja yang sudah dilakukan?

Berobat ke luar negeri sampai miliaran rupiah. Tapi, aku belajar sesuatu dari kankerku ini. Ada perubahan-perubahan sikap sebelum dan sesudah terdiagnosis. Waktu itu aku belum ngerti tentang denial, bargaining, dan sebagainya. Baru setelah itu aku belajar yang tahapan lima jari (self-healing yang dipelajari Ria, Red) itu.

Seperti apa tahapan lima jari itu?

Kelingking berarti denial atau penolakan. Jari manis itu bargaining atau menawar. Jari tengah berarti anger atau marah. Telunjuk itu introspeksi, mengarah ke kita. Ibu jari itu acceptance atau menerima. Setelah kankernya kambuh lagi, apakah berobat hingga ke luar negeri lagi?

Aku pakai BPJS Kesehatan. Aku memang bikin mindset bahwa badan, jiwa, dan hidupku bakal lebih baik kalau gratisan alias pakai BPJS Kesehatan. Sebab, sudah tujuh tahun (2009–2016, Red) denial kan. Jadi, pas dapat gratisan, aku meyakinkan diri bahwa ini pasti sembuh. Waktu kemoterapi, di kemo ketiga sudah dinyatakan bersih.

Setelah dinyatakan sembuh dari kanker, apa saja yang dilakukan supaya tetap sehat?

Lebih berhati-hati aja sekarang. Makan yang banyak, tetapi jangan frozen food. Selama sakit, suplemen penambah darah tuh udah kayak kuaci (saking banyaknya). Jadi, pas dikasih lagi abis periksa, aku bilang ke dokter, barangkali ada yang lebih membutuhkan. Lebih banyak sedekah aja.

Apa hal yang orang masih salah paham soal kanker dan ingin Kak Ria luruskan?

Nah, ini yang kadang aku gemes. Ketika pasien mau kemoterapi atau operasi, kadang ada yang bilang harus pantang ini-itu. Pengin rasanya aku suruh orang itu minta maaf sama pasiennya. Orang lagi pengobatan kan ibarat mau maju perang, masak enggak makan? Kalau elu bisa memproduksi banyak lemak, berarti metabolismenya bener, gitu aja. Terus, penyakit itu berada di tubuh yang acidic. Jadi, kalau mau menyembuhkan penyakit apa pun, harus surrender. Berserah. Tandanya, obatnya ada di kita.

Maksudnya obat ada di kita?

Harus ada release. Harus ada anger release, emotional release.

Kita butuh afirmasi semacam sugesti juga sebenarnya. Satu lagi, tubuh kita kan lagi negatif dengan adanya penyakit, ubah jadi positif. Jadi orang yang lebih baik, jangan malu.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.