Website Official initu.id Penyedia Informasi Posititif
Berbagi pengetahuan dan informasi dari banyak sumber

Samping Kiri

Profil dan Biografi Singkat Sultan Mahmud Riayat Syah Asal Riau

Profil dan Biografi Singkat Sultan Mahmud Riayat Syah Asal Riau

0 1.080

Nama Sultan Mahmud Riayat Syah resmi dinobatkan sebagai pahlawan nasional asal Provinsi Kepulauan Riau.

Penganugerahan gelar pahlawan itu tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 115 TK Tahun 2017.

Penetapan Sultan Mahmud Riayat Syah sebagai pahlawan nasional menyusul nama-nama seperti Raja Ali Haji dan Raja Haji Fisabilillah yang juga berasal dari Kepulauan Riau.

Jika menelisik sejarahnya, Sultan Mahmud Riayat Syah punya cerita menarik.

Seperti dikutip dari situs Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Mahmud Riayat Syah ternyata sudah menjadi sultan Kerajaan Lingga pada 1761. Saat itu, usianya baru 2 tahun.

Sebagai pemimpin tertinggi Kerajaan Johor-Riau-Lingga dan Pahang, Mahmud Riayat Syah atau Sultan Mahmud Syah III terlibat dalam pertempuran melawan penjajah Belanda di antaranya perang di Teluk Riau dan Teluk Ketapang Melaka pada tahun 1784.

Selain beberapa kali bentrok dengan Belanda, Sultan Mahmud Syah III juga memperkuat armada perangnya dan membangun pusat-pusat ekonomi.

Sultan Mahmud Syah III juga mempererat hubungan dengan beberapa kerajaan lain seperti Jambi, Mempawah, Indragiri, Asahan, Selangor, Kedah dan Trenggano.

————————————————————————————-
Lahir pada tanggal 24 Maret 1756, Mahmud Syah III adalah anak bungsu dari sultan Johor ke-13, Abdul Jalil Muazzam Syah dengan istri keduanya, Tengku Puteh binti Daeng Chelak.[1] Mahmud Syah III adalah adik sultan Johor ke-14, Ahmad Riayat Syah (berkuasa dari tahun 1761-1770).

Selama hidupnya, Mahmud Syah III menikahi beberapa perempuan, di antaranya:[1]

Encik Engku Puteh binti Tun Abdul Majid (meninggal di Kuala Pahang tahun 1803, tidak memiliki keturunan)
Encik Makoh binti Encek Jaafar (Daeng Maturang, seorang pembesar Bugis). Dari pernikahan ini lahir Hussein Syah (sultan Johor setelahnya yang diangkat oleh kolonial Inggris).[4]
Encik Mariam (meninggal di Lingga, 1831) binti Dato’ Hassan (pembesar Bugis dari Sidenreng, Sulawesi Selatan), menikah tahun 1780. Dari pernikahan ini lahir Abdul Rahman Muazzam Syah (sultan Johor setelahnya & sultan Riau-Lingga pertama) dan Tengku Putri Bulang.
Raja Hamidah (Tengku Putri, 1764-5 Agustus 1844) binti Raja Haji Fisabilillah, menikah di Riau tahun 1804 dengan Pulau Penyengat sebagai mas kawinnya.[5] Dari pernikahan ini lahir seorang anak perempuan.

Mahmud Syah III naik takhta pada usia sekitar 14 tahun menggantikan kakaknya, Ahmad Riayat Syah (1752-1770, naik takhta pada bulan Februari 1761 saat berusia 9 tahun).[1] Pelantikan Mahmud Syah III sebagai sultan digambarkan dalam Tuhfat al-Nafis dengan suasana yang sangat meriah. Ia digendong menuju kursi kebesaran Kesultanan Johor-Pahang-Riau-Lingga oleh seorang Bugis yang bernama To Kubu.[3] Pada saat pelantikan itu, pihak Bugis dan Melayu sepakat untuk mengakui Mahmud Syah III sebagai Raja Johor-Riau-Lingga yang harus disegani.[6]

Pada awal masa pemerintahannya, jabatan Yang Dipertuan Muda dipegang oleh kepala suku Bugis yang kuat, Daeng Kemboja (menjabat 1745-1777).[7] Baru pada tahun 1777 jabatannya digantikan oleh Raja Haji Fisabilillah (menjabat 1777-1784).

Pada bulan Agustus 1784, tentara Belanda mulai menyerang pusat pemerintahan Johor di Hulu Riau. Kemudian pada Oktober 1784, kapal Utrecht dan 6 buah kapal perang yang dipimpin oleh laksamana Jacob Pieter van Braam datang menyerang Riau. Pertempuran meletus antara Johor dan Belanda di Hulu Riau yang berakhir dengan kemenangan Belanda atas Johor. Yamtuan Muda Raja Ali (pengganti Raja Haji Fisabilillah yang syahid di Teluk Ketapang) kemudian meninggalkan Pulau Bintan ke Sukadana.[8] Sultan Mahmud yang berada di Riau kemudian menandatangani perjanjian dengan VOC di kapal Utrecht pada tanggal 10 November 1784.[9]

Di antara isi perjanjian tersebut mencatatkan bahwa pelabuhan Riau menjadi milik Belanda,[8] menyerukan berakhirnya monopoli Bugis di atas kantor Yamtuan Muda, hingga melarang orang Bugis lainnya untuk memegang jabatan di pemerintahan Johor

Comments
Loading...
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE