KH Zubair Dahlan Ayah Mbah Moen Ulama Karismatik Rembang

Ulama karismatik asal Rembang Jawa Tengah ini berbudi pekerti luhur dan mempunyai kepribadian yang mulia. Tubuhnya kurus, berkulit sawo matang, dan berjenggot tipis. Tajam penglihatannya membuatnya tampak lebih berwibawa.

Beliau adalah KH Zubair Dahlan, ulama yang sangat cinta terhadap ilmu, selalu berpegang teguh pada sunnatullah dan berjuang di jalan Allah. Pada saat munculnya G30/S-PKI, ayahanda KH Maimoen Zubair itu juga pernah mengajak para kader Nahdlatul Ulama (NU) untuk membersihkan wilayah Sarang dari pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sosok Kiai Zubair sangat disegani dan dihormati, khususnya karena kealimannya. Dia merupakan pendiri Pesantren Ma’hadul Ulumusy Syar’iyyah (MUS) Sarang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kiai Zubair juga merupakan kawan seperjuangan sosok pendiri NU, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah. Bagaimanapun, pada awal terbentuknya jam’iyah itu dirinya tidak masuk dalam jajaran kepengurusan.

KH Zubair Dahlan lahir dengan nama Anwar pada 1905 Masehi atau 1323 Hijriah di daerah pesisir pantai, tepatnya Desa Karangmangu, Sarang, Rembang. Ia merupakan putra kedua dari pasangan Kiai Dahlan dan Ibu Nyai Hasanah. Sejak kecil, lelaki ini tumbuh besar di bawah bimbingan ayahandanya langsung.

Zubair kecil juga belajar membaca Alquran dan ilmu-ilmu dasar agama Islam kepada kakeknya, Kiai Syua’ib. Saat usianya masih enam tahun, ia sudah dapat membaca Alquran dengan baik dan benar, seturut dengan prinsip-prinsip tajwid.

Kecerdasaran Zubair memang sudah dikenal masyarakat tempat tinggalnya sejak masih belia. Ia memiliki semangat yang tinggi dalam mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu agama. Di bawah bimbingan para kiai dan ustaz setempat, macam-macam disiplin ilmu keislaman dikajinya secara menyeluruh.

Sang ayah secara khusus mengajarinya ihwal sastra dan gramatika bahasa Arab. Dalam bidang ilmu fikih, ia mengkhatamkan kitab Taqrib dari pamannya, Kiai Ahmad bin Syua’ib. Adapun kitab Fathul Wahab dikajinya dengan arahan Kiai Fathur Rohman bin Kiai Ghozali.

Untuk mendalami ilmu agama, Zubair tidak hanya belajar di daerah kelahirannya. Pemuda yang haus akan ilmu pengetahuan ini juga pergi ke Tanah Suci, Makkah dan Madinah, Arab Saudi. Saat berusia 17 tahun, ia pergi ke kota tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW itu bersama dengan kakek dan neneknya.

Sebelumnya, pamannya yang bernama Kiai Imam Kholil sudah bermukim di Haramain. Tiga tahun lamanya Zubair tinggal di kediaman pamannya di sana. Selama di Tanah Suci, ia selalu memanfaatkan waktunya untuk belajar. Ada banyak guru tempatnya menimba ilmu-ilmu agama. Di antaranya adalah Kiai Baqir al-Jogjawy asal Yogyakarta dan Syekh al-‘Alamah Hasan al-Yamani.

Setelah itu, ia kembali ke Tanah Air ditemani pamannya, Kiai Imam Kholil. Namun, KH Zubair merasa pendalaman ilmu agamanya masih belum cukup. Ia bertekad untuk terus belajar, melanjutkan rihlah keilmuan. Meskipun termasuk tamatan Masjid al-Haram Makkah, dirinya tak sungkan untuk berguru kepada para alim ulama sekitarnya, seperti Syekh Al ‘Alamah Kiai Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang.

Di bawah bimbingan Kiai Faqih, Zubair mempelajari berbagai bidang ilmu. Beberapa kitab dikuasainya secara tuntas, seperti Tafsir Jam’ul Jawami’ atau Syarah Ummul Barahin. Dari gurunya itu, ia juga sempat mendapatkan ijazah yang termaktub dalam kumpulan “Kifayatul Mustafid“. Di sana, tercatat sejumlah sanad yang diperoleh Kiai Zubair dari jalur Syekh Muhammad Mahfud bin Abdullah at-Turmusiy.

Setelah belajar kepada Kiai Faqih, Kiai Zubair Dahlan akhirnya mulai berperan sebagai pendakwah sekaligus pengajar. Tempatnya mengabdi sebagai seorang kiai alim ialah Pondok Pesantren Sarang. Saat itu, usianya masih cukup muda, belum genap 23 tahun. Akan tetapi, karisma dan kemampuannya sudah diakui banyak kalangan. Tak sedikit santri yang menimba ilmu atau meminta nasihat kepadanya.

Kira-kira satu tahun kemudian, Kiai Zubair menikah dengan putri pamannya dari garis ibu. Namanya, Mahmudah binti Kiai Ahmad bin Syua’ib. Dari pernikahan tersebut, Kiai Zubair dikaruniai lima orang putra dan putri. Sayangnya, hampir semuanya meninggal dunia pada waktu masih kecil.

Hanya satu yang tumbuh besar, yaitu KH Maimoen Zubair. Putranya ini akhirnya dikenang sebagai seorang alim yang sangat dihormati sekaligus pendiri Pondok Pesantren al-Anwar, Sarang, Rembang.

Selang berapa tahun kemudian, Nyai Mahmudah berpulang ke rahmatullah, tepatnya pada Jumadil Akhir 1358 H. Seiring berjalannya waktu, Kiai Zubair menikah lagi. Kali ini, pasangannya bernama Aisyah binti Kiai Abdul Hadi. Pada pernikahan kedua itu, ia dianugerahi lima orang putri dan seorang putra. Mereka adalah Halimah, Sai’dah, ‘Afifah, Sholihah, Salamah, serta Ma’ruf Zubair.

Gurunya ulama

Di sepanjang hayatnya, Kiai Zubair menghabiskan waktu untuk mengajar dan membimbing para santri. Setiap bulan Ramadhan, misalnya, dia terbiasa membaca tafsir Jalalain dan beberapa kitab hadits seperti Riyadhus Sholihin, Al-Adzkar an-Nawawiyyah, dan lain-lain. Para muridnya menyimak pembacaan sang kiai dengan saksama.

Santri-santrinya yang bertebaran di khususnya Pulau Jawa. Tidak sedikit dari mereka yang kemudian menjadi alim ulama. Di antaranya adalah Kiai Muslih ibn Abdurrahman al-Maraqi (Mranggen), Kiai Ustman, dan Kiai Muradi al-Maraqi.

Di samping itu, beberapa nama lainnya adalah Kiai Hisyam (Cepu), Kiai Sahal (Jepara), Kiai Ridwan Bangilan, Kiai Jauhari (Jember), Kiai Nawawi Sidogiri, serta Kiai Idris Marzuqi (pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo).

Saat usianya 48 tahun, Kiai Zubair mengadakan perjalanan lagi ke Makkah al-Mukarromah. Inilah kedua kalinya ia bersama para jamaah haji dari Indonesia menunaikan rukun Islam yang kelima. Pada saat itu, mubaligh tersebut bertemu dengan seorang yang alim, Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliky.

Kiai Zubair saat itu masih menyempatkan diri untuk mengikuti majlis ilmu yang diasuh Sayyid Alawi di Babussalam, pintu yang berada di tempat sai. Kiai Zubair sangat mengagumi ilmu-ilmu agama yang disampaikan oleh sang habib keturunan Rasulullah SAW itu.

Selain itu, Kiai Zubair juga bertemu dengan seorang ulama berdarah Minangkabau, yakni Syekh Yasin bin Isa al-Fadani. Ulama asal Padang, Sumatra Barat, itu memang telah menetap lama di Makkah. Di sela-sela pertemuan yang cukup singkat itu, Syekh Yasin memberikan kepada Kiai Zubair ijazah seluruh kitab yang telah dipelajarinya. Usai musim haji, dai asal Kabupaten Rembang itu pun kembali ke Indonesia.

Beberapa waktu kemudian tibalah bulan suci Ramadhan. Seperti biasa, dia memanfaatkan waktu pada malam-malam Ramadhan dengan membaca kitab Tafsir Jalalain. Risalah itu merupakan kitab terakhir yang dibacanya sebelum wafat. Pada 10 Ramadhan, tiba-tiba Kiai Zubair mengalami sakit panas. Keadaannya semakin bertambah parah hingga akhir hayatnya.

Sang ulama yang karismatik itu mengembuskan nafas terakhirnya pada malam Selasa setelah maghrib, hari ke-15 bulan Ramadhan 1389 Hijiriah. KH Zubair Dahlan wafat dalam usia 65 tahun. Kepergiannya menyisakan duka yang mendalam bagi Muslimin, khususnya masyarakat Rembang. Lautan manusia menghadiri prosesi pemakaman sang alim.

Hingga kini, kiprahnya terus dikenang ribuan santri dan warga setempat. Setiap tahun, kuburannya yang berlokasi di kompleks pemakaman Simpek, Sarang, selalu ramai diziarahi, khususnya dalam momen peringatan haul KH Zubair Dahlan. Acara tersebut biasanya dilaksanakan setiap bulan suci Ramadhan.

Santri-santri Beliau

Dari didikan ayahanda Kiai Maimoen Zubair ini, lahirlah banyak alim ulama yang bertebaran di pulau Jawa. Di antara muridnya adalah Kiai Maimoen Zubair, Kiai Muslih ibn Abdurrahman al-Maraqi(Mranggen), Kiai Ustman al-Maraqi, Kiai Muradi al-Maraqi, Kiai Hisyam Cepu, Kiai Sahal Jepara, Kiai Ridwan Bangilan, Kiai Jauhari Jember, Kiai Bisyri al-Hafi Cepu.

Kiai Masyhudi Merakurak, Kiai Manfuri Merakurak, Kiai Habib Sayyid Zaen al-Jufri, Kiai Abdul Fattah Sendang, Kiai Shiddiq Sendang, Kiai Muslih Tanggir, Kiai Abdul Khaliq Laju, Kiai Masyhudi Senori, Kiai Kurdi al-Makki, Kiai Matin Mas’ud Cilacap, Kiai Shiddiq Narukan, Kiai Sahal Mahfudz Kajen, Kiai Abdul Wahab Sulang, Kiai Syahid Kemadu, Kiai Dahlan Surabaya, Kiai Ghazali Bojonegoro, Kiai Fayyumi Siraj Kajen, Kiai Tamam Siraj Pamotan.

Kiai Ibrahim Karas, Kiai Humaidi Narukan, Kiai Syifa Makam Agung, Kiai Abdul Ghafur Senori, Kiai Harun Kalitidu, Kiai Masyhudi Madiun, Kiai Mursyid Klaten, Kiai Abu Thayyib Solo, Kiai Hambali Demak, Kiai Sholeh Kragan, Kiai Masyhudi Blora, Kiai Abdussalam Rengel, Kiai Syaerozi Cirebon, Kiai Izzudin Cirebon, Kiai Nashiruddin Cirebon, Kiai Idris Marzuqi (pengasuh Pesantren Lirboyo), Kiai Islahudin Dukuhseti, Kiai Muslim Mranggen, Kiai Dimyathi Rais Kendal, Mbah Dim Ploso, Kiai Nawawi Sidogiri, Kiai Hasani Sidogiri, dan lain-lain.

Melawan komunis

Pada 30 September 1965, pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) terjadi. Tidak hanya Ibu Kota, daerah-daerah pun dilanda situasi yang mencekam. Di beberapa provinsi, banyak tentara, kiai, dan santri yang dibunuh dengan kejam oleh gerombolan komunis.

Sebelum dihabisi, mereka bahkan disiksa dan dianiaya terlebih dahulu. Di Lubang Buaya, Jakarta, sejumlah jenderal Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengalami nasib nahas; mereka diculik lalu dieksekusi mati para pemberontak. Jenazah mereka dibuang begitu saja dalam sumur sempit.

Umat Islam tidak terima dengan kekejaman yang dilakukan PKI. Akhirnya, sebagian mereka melakukan tindakan memukul balik. Di antaranya bahkan memburu keberadaan para simpatisan PKI yang sudah berkhianat kepada Indonesia.

Dalam keadaan demikian, Kiai Zubair Dahlan di Rembang juga turut mengajak para aktivis Anshor dan Banser NU untuk membersihkan wilayah Sarang dari pengaruh PKI. Amirul Ulum dalam buku KH Zubair Dahlan: Kontribusi Kiai Sarang untuk Nusantara dan Dunia Islam, menjelaskan, ketika para pendukung PKI hendak dieksekusi mati di Sarang, Kiai Zubair Dahlan melarang keputusan tersebut.

Kiai Zubair mengusulkan agar mereka yang tertangkap cukup dipenjara saja. Jika masa penahanannya sudah selesai, mereka kemudian bisa dibebaskan. Harapannya, ada perasaan insaf yang tulus dari dalam diri mereka dan keturunannya agar tidak lagi mengikuti jejak komunis, seperti memusuhi kiai dan pesantren. KH Zubair juga berharap mereka bisa memeluk dan mengamalkan Islam secara benar.

Menurut Amirul Ulum, apa yang dilakukan Kiai Zubair dalam hal ini persis dengan akhlak baginda Nabi Muhammad SAW. Ketika Rasulullah SAW berdakwah di Thaif, mayoritas masyarakat setempat menolak beliau. Bahkan, kaki beliau yang mulia ikut cedera.

Malaikat Jibril menawarkan diri untuk menghukum penduduk Thaif dengan menjatuhkan gunung ke atas mereka. Namun, Rasul SAW tidak mau itu terjadi. Alih-alih mengecam, beliau memaafkan mereka dan mendoakan kebaikan bagi keturunan penduduk Thaif di kemudian hari.

Para alim ulama dan kiai Nusantara, termasuk yang berafiliasi dengan NU, memang sangat setia terhadap Indonesia. Mereka tidak ingin negeri yang telah diperjuangkan sepenuh hati justru porak-poranda diancam musuh dari dalam. Karena itu, mereka mengecam PKI yang tidak hanya mengancam keutuhan Indonesia, tetapi juga telah meneror rakyat, utamanya Muslimin.

Kiai Zubair juga merupakan bagian terpenting dari para kiai NU, khususnya wilayah Rembang dan Jawa Tengah. Ia senantiasa setia dengan bangsanya. Menurut Ulum, sang kiai senantiasa menanamkan rasa cinta Tanah Air kepada keluarga dan murid-muridnya. Semangat “Hubbul wathan minal iman” tersebut kemudian diwarisi oleh putranya, KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen. 

Kiai Prolifik yang Pejuang 

Alim ulama Nusantara sejak berabad silam dikenang sebagai penulis yang produktif. Banyak kitab karya mereka yang terus dikaji bahkan hingga saat ini. Tidak hanya itu, buah pemikiran mereka juga tersebar hingga ke luar negeri. Dalam hal ini, kiprah para mubaligh tersebut turut mengharumkan nama Indonesia di level dunia.

Salah seorang dai yang prolifik ialah KH Zubair Dahlan. Ulama kelahiran Sarang, Rembang, Jawa Tengah, itu tercatat telah menulis banyak buku. Karya-karyanya mengulas beragam topik keislaman, mulai dari ilmu tata bahasa Arab, fikih, hadis, hingga tasawuf.

Salah satu santrinya adalah almarhum KH Sahal Mahfudh. Ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat periode 2000-2014 itu menuturkan kesaksiannya mengenai sang guru. Ia berpendapat, Kiai Zubair bagaikan samudra luas karena kedalaman ilmunya. Selain itu, kesungguhannya tergurat jelas dalam berbagai karya peninggalan sang alim.

“Kiai Zubair Dahlan merupakan seorang kiai yang tajam pemikirannya, alim dalam dunia karang-mengarang, dan ilmunya bagaikan samudra,” tulis Kiai Sahal seperti dikutip dalam buku KH Zubair Dahlan: Kontribusi Kiai Sarang untuk Nusantara dan Dunia Islam.

Di tengah kesibukannya dalam mengajar, Kiai Zubair memang masih menyempatkan diri untuk mengarang beberapa kitab. Di antaranya adalah kitab Manasik Haji, Nazhm Risalah as-Samarqondiyah, dan Al-Qolaid fii Tahqiqi Ma’na Isti’aroh.

Kiai Zubair juga menunjukkan perhatiannya yang besar pada dunia sastra. Ia pernah membuat beberapa syair dan ulasannya mengenai etika, hisab, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, syair nasihat dalam hal kesabaran dalam urusan rezeki.

Bait-bait indah itu ditulisnya dalam bahasa Arab. Artinya, “Janganlah kalian tergesa-gesa tentang urusan rezeki, Karena rezeki tidak datang dengan tergesa-gesa tanpa keraguan. Apabila kalian bersabar, niscaya rezeki akan mendatangi kalian. Tetapi manusia diciptakan dengan (tabiat) tergesa-gesa.”

Dengan menulis kitab, Kiai Zubair telah mengikat ilmunya. Dalam arti, ilmu dan amalnya akan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi. Tampaknya, ayahanda Mbah Maimoen ini menghayati betul perkataan sarat hikmah dari Imam Syafi’i, “Ilmu bagaikan hewan buruan, dan pena (tulisan) adalah ibarat tali pengekangnya.”

Selain produktif menulis kitab, Kiai Zubair Dahlan juga merupakan seorang ulama pejuang. Pada zaman revolusi, ia turut mempertahankan wilayah pantai utara (pantura), Jawa Tengah dari gempuran Belanda, yang menyerang melalui Agresi Militer I dan II.

Sebagai tokoh masyarakat, ia selalu hidup bersahaja. Pada 1969, memasuki bulan Syaban, Kiai Zubair masih bisa memimpin pembacaan kitab Ihya’ Ulumuddin juz empat. Beberapa waktu kemudian, bulan suci Ramadhan pun tiba. Ia meneruskan tradisi membaca kitab-kitab yang sudah menjadi kebiasaannya, seperti tafsir Alquran Al-Jalalain.

Tiba-tiba, ia sempat terserang sakit demam pada bulan tersebut. Lama kelamaan, penyakitnya kian parah hingga ajal pun menjemputnya. Kiai Zubair berpulang ke rahmatullah pada malam Selasa usai shalat maghrib tanggal 15 Ramadhan 1389 H.

Biografi Singkat

  • Nama : KH Zubair Dahlan
  • Nama Kecil : Anwar
  • TTL : Tahun 1905 Masehi atau 1323 Hijriah di daerah pesisir pantai, Desa Karangmangu, Sarang, Rembang Jawa Tengah
  • Istri : Mahmudah binti KH. Ahmad bin Syu’aib

Penulis oleh MUHYIDDIN di tayangkan di Republika

zubair dahlan