Hasil Perhitungan Cepat (Quick Count) Pilgub Sumut – Sumatera Utara

Hasil Perhitungan Cepat (Quick Count) Pilgub Sumut - Sumatera Utara

0

Hasil Perhitungan Cepat Quick Count Pilgub Sumatera Utara (Sumut) 2018

Pilgub Sumatera Utara pada tahun 2018 ini memiliki dua pasangan calon Gubernur dan wakil Gubernur yang akan memimpin Sumut 5 tahun kedepan. Sebelumnya sudah dilakukan pendataan ulang mengenai jumlah pemilih di tiap kota maupun kabupaten yang ada di Sumatera Utara.

Untuk mengetahui hasil dari pilgub Sumatera Utara ini yang akan dilakukan secara serentak di seluruh provinsi di Indonesia pada tanggal 27 Juni 2018, dapat diketahui secara cepat dan tepat dengan adanya penghitungan yang dilakukan dengan quick count.

Pengundian nomor urut calon Pilgub Sumatera Utara telah dilakukan pada 13 Februari 2018 lalu, pengundian ini bertempat di Hotel Grand Mercure. Tetapi, amat disayangkan calon JR Saragih yang berpasangan dengan Ance tidak dapat mengikuti pilkada Sumatera Utara. Hal dikarenakan ada persyaratan yang tidak terpenuhi oleh bakal calon pasangan tersebut, lebih tepatnya mengenai permasalasan berkas ijazah. Adapun nomor urut bakal calon Gubernur Sumatera Utara, adalah sebagai berikut :

1. Edy Rahmayadi dan Musa Rajeckshah. 51,98%

Pasangan ini sering di singkat menjadi selogan “ERAMAS”, sebelumnya pasangan ini juga mendapatkan giliran pertama untuk mengambil nomor urut pilgub Sumatera Utara tak di sangka mereka juga mendapatkan nomor urut pertama.

Hal ini langsung di sambut gembira dan semangat oleh para pendukung paslon ini dengan meneriakan yel- yel mereka “ERAMAS ERAMAS ERAMAS”. Dalam wawancaranya Edy memberikan statement bahwa nomor satu, pastilah menjadi nomor satu.

2. Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Salam.48,02%

Pasangan ini mendapatkan nomor urut dua, tak kalah dengan paslon nomor urut satu pasangan ini juga memiliki slogan atau singkatan yaitu “DJOSS”, dengan ditetapkannya nomor urut ini Djarot memberikan statement kepada para pendukungnya dengan salam dua jari.

Para pendukungpun menyambut gembira hal ini dengan menggemakan yel- yel yang telah di siapkan sebelumnya, “apakatanya DJOSS, apa kau bilang YES”. Seperti itulah gema yel- yel yang dilakukan oleh para pendukungnya.

Quick count sendiri merupakan penghitungan hasil pemilu yang dilakukan secara cepat namun tepat, dengan adanya penghitungan cepat ini hasil pemilu dapat di ketahui siapa yang menjadi pemenangnya. Adapun cara penghitungan quick count, sebagai berikut :

Menentukan Sampel Terlebih Dahulu Untuk menentukan TPS mana yang akan dijadikan sampel haruslah secara acak, agar hasilnya valid dan sesuai dengan keadaan sebenarnya dilapangan. Jika jumlah sampel yang diambil lebih banyak maka data yang dihasilkan akan semakin bagus kualitas dan kevalidannya teruji. Akan tetapi, hal ini juga memberikan dampak negatif jika jumlah sampel terlalu banyak maka jumlah dana operasional menjadi tidak efektif lagi. Hal ini di sebabkan oleh semakin banyaknya orang yang terlibat dalam survei.

Merekrut Para Relawan Penghitungan hasil Pilgub Sumatera Utara juga menggunakan metode quick count yang dilakukan oleh beberapa lembaga yang sudah ahli di bidangnya, langkah selanjutnya setelah menentukan sampel adalah merekrut para relawan. Pilihan relawan yang berada di sekitar tempat TPS itu berada, karena diyakini mereka mengetahui secara pasti keadaan di wilayah tersebut sebenarnya. Terlebih dahulu lakukanlah pelatihan terhadap mereka.

Calon pilgub Sumatera Utara memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, bijaklah dalam memilih. Teliti visi serta misi mereka apakah sesuai dan selaras dengan keinginan seluruh masyarakat Sumatera Utara, hidarilah politik uang untuk mewujudkan pemilihan para pemimpin yang bersih dan amanah. Semoga kita bisa menjadi pemilih yang cerdas untuk menentukan masa depan Sumatera Utara. Semoga bermanfaat.

Berikut data quick count Pilgub Sumatera Utara versi Charta Politika hingga pukul 15.12 WIB dengan suara yang terkumpul 60,00%:

Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah: 60,51%
Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus: 39,49%

Profil Sumatera Utara

Pesisir timur merupakan wilayah di dalam provinsi yang paling pesat perkembangannya karena persyaratan infrastruktur yang relatif lebih lengkap daripada wilayah lainnya. Wilayah pesisir timur juga merupakan wilayah yang relatif padat konsentrasi penduduknya dibandingkan wilayah lainnya. Pada masa kolonial Hindia Belanda, wilayah ini termasuk residentie Sumatra’s Oostkust bersama provinsi Riau.

Di wilayah tengah provinsi berjajar Pegunungan Bukit Barisan. Di pegunungan ini terdapat beberapa wilayah yang menjadi kantong-kantong konsentrasi penduduk. Daerah di sekitar Danau Toba dan Pulau Samosir, merupakan daerah padat penduduk yang menggantungkan hidupnya kepada danau ini.

Pesisir barat merupakan wilayah yang cukup sempit, dengan komposisi penduduk yang terdiri dari masyarakat Batak, Minangkabau, dan Aceh. Namun secara kultur dan etnolinguistik, wilayah ini masuk ke dalam budaya dan Bahasa Minangkabau.

Terdapat 419 pulau di propisi Sumatera Utara. Pulau-pulau terluar adalah pulau Simuk (kepulauan Nias), dan pulau Berhala di selat Sumatera (Malaka).

Kepulauan Nias terdiri dari pulau Nias sebagai pulau utama dan pulau-pulau kecil lain di sekitarnya. Kepulauan Nias terletak di lepas pantai pesisir barat di Samudera Hindia. Pusat pemerintahan terletak di Gunung Sitoli.

Kepulauan Batu terdiri dari 51 pulau dengan 4 pulau besar: Sibuasi, Pini, Tanahbala, Tanahmasa. Pusat pemerintahan di Pulautelo di pulau Sibuasi. Kepulauan Batu terletak di tenggara kepulauan Nias. Pulau-pulau lain di Sumatera Utara: Imanna, Pasu, Bawa, Hamutaia, Batumakalele, Lego, Masa, Bau, Simaleh, Makole, Jake, dan Sigata, Wunga.

Di Sumatera Utara saat ini terdapat dua taman nasional, yakni Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Batang Gadis. Menurut Keputusan Menteri Kehutanan, Nomor 44 Tahun 2005, luas hutan di Sumatera Utara saat ini 3.742.120 hektare (ha). Yang terdiri dari Kawasan Suaka Alam/Kawasan Pelestarian Alam seluas 477.070 ha, Hutan Lindung 1.297.330 ha, Hutan Produksi Terbatas 879.270 ha, Hutan Produksi Tetap 1.035.690 ha dan Hutan Produksi yang dapat dikonversi seluas 52.760 ha.

Namun angka ini sifatnya secara de jure saja. Sebab secara de facto, hutan yang ada tidak seluas itu lagi. Terjadi banyak kerusakan akibat perambahan dan pembalakan liar. Sejauh ini, sudah 206.000 ha lebih hutan di Sumut telah mengalami perubahan fungsi. Telah berubah menjadi lahan perkebunan, transmigrasi. Dari luas tersebut, sebanyak 163.000 ha untuk areal perkebunan dan 42.900 ha untuk areal transmigrasi.

 

 

Note Sumber LSI dengan data

https://news.detik.com/berita/d-4085851/quick-count-pilgub-sumut-lsi-edy-5198-djarot-4802

 

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.