Indonesia Juarai Trend Ekonomi Digital di Asia Tenggara Sektor Ride Hailing

Nilai ekonomi internet dari sektor jasa yang digerakkan oleh transportasi daring atau ride hailing di Asia Tenggara, sesuai laporan e-Conomy SEA 2019, diperkirakan mendekati 13 miliar dollar AS pada 2019. Angka ini naik empat kali lipat dibandingkan tahun 2015 yang sekitar 3 miliar dollar AS.

Lini bisnis jasa pesan-antar makanan memberikan pengaruh signifikan terhadap kenaikan total nilai ekonomi internet sektor ride hailing. Sebagai gambaran, nilai ekonomi internet jasa transportasi daring sekitar 2,5 miliar dollar AS pada tahun 2015, sementara jasa pesan-antar makanan 0,4 miliar dollar AS. Tahun 2019, nilai ekonomi jasa transportasi daring 7,5 miliar dollar AS dan jasa pesan-antar makanan 5,2 miliar dollar AS.

Laporan itu merupakan hasil riset Google, Temasek Holdings Pte, dan Bain & Company. Ekonomi internet dilihat dalam ukuran nilai barang dagangan (GMV). Lembaga itu meriset lima sektor, yaitu perdagangan secara elektronik (e-dagang), media daring, ride hailing, wisata dan perjalanan, serta jasa keuangan digital.

Secara khusus di Indonesia, nilai ekonomi internet sektor ride hailing mencapai 0,9 miliar dollar AS pada 2015 dan diperkirakan tumbuh 6,6 kali lipat menjadi 6 miliar dollar AS tahun 2019. Tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) selama 2015-2019 mencapai 57 persen.

Managing Director Google Indonesia Randy Mandrawan Jusuf, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (7/10/2019), menyebutkan, berdasarkan Google Trends, pencarian mengenai merek pengantaran makanan daring tumbuh lebih dari 13 kali lipat di Indonesia selama triwulan I-2015 sampai triwulan IV-2019.

Faktor yang memengaruhi pertumbuhan ride hailing adalah perilaku konsumen. Jasa layanan pesan-antar makanan jadi sangat populer di kota besar karena menjawab keluhan konsumen, seperti kemacetan lalu lintas dan ketidaknyamanan pada cuaca.

Jabodetabek menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi internet di Indonesia. Pengguna yang tinggal di area itu membelanjakan uang sekitar 555 dollar AS per kapita. Nilai itu lebih tinggi dibandingkan pengguna yang tinggal di kota nonmetro, seperti kabupaten/kota di luar Jabodetabek, yaitu sekitar 103 dollar AS per kapita.

Menurut Randy, semua sektor industri punya potensi berkembang lebih besar di kabupaten/kota di luar Jabodetabek. Di sektor media daring, dia mencontohkan maraknya kreator Youtube dari kabupaten/kota di luar Jabodetabek. Para pengikut akun mereka bahkan berdomisili di seluruh Nusantara.

Dominasi pendanaan

Join Head, Investment Group, sekaligus Join Head Portfolio Strategy and Risk Group di Temasek, Rohit Sipahimalani, mengatakan, sektor e-dagang dan ride hailing telah mendominasi pendanaan di Asia Tenggara. Alasannya, pertumbuhan industri dua sektor ini cepat.

Dalam laporan disebutkan, perusahaan ride hailing mengumpulkan pendanaan lebih dari 14 miliar dollar AS empat tahun terakhir. Hasilnya mereka pakai untuk memperluas jangkauan layanan sambil berinvestasi di layanan baru.

Dua pemain terkemuka, Grab dan Go-Jek, berinvestasi untuk membangun bisnis jasa angkutan daring dan pengiriman makanan yang bersaing di sejumlah negara di Asia Tenggara. Keduanya juga mulai bertindak sebagai investor, seperti menyuntikkan permodalan atau mengakuisisi perusahaan rintisan bidang teknologi lain untuk memperkuat ekosistem.

Secara terpisah, Head of Marketing GrabFood and New Business Grab Indonesia Ichmeralda Rachman mengatakan, nilai penjualan kotor GrabFood tumbuh tiga kali lipat selama semester I-2019. Pencapaian ini didorong oleh ekspansi di sejumlah kabupaten/kota, antara lain Surabaya, Bandung, dan Medan.

Chief Food Officer Go-Jek Group Catherine Hindra Sutjahyo, dalam keterangan pers, menyebut GoFood telah menjadi pemimpin pasar layanan pesan-antar makanan dengan pangsa sekitar 75 persen di Indonesia.

Sumber KompasID

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.