Khutbah Jum’at Masjid Tebuireng “Keutamaan Orang Menahan Amarah”

Khutbah Jum'at Masjid Tebuireng "Keutamaan Orang Menahan Amarah"

0

Oleh: KH. Fahmi Amrullah Hadzik

اَلْحَمْدُ لِلهِ . نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ . وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا . مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّابَعْدُهُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَي اللهِ . اِتَّقُوْ اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah Jumah Rahimakumullah

Marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Haqqo tuqotihi dengan sebenar-benar takwa.

Dikisahkan pada waktu perang Khandaq, umat Islam mendapatkan tantangan dari seorang dedengkot musyrik kafir Quraisy yang bernama Amr bin Abdul Wad. Tantangan ini berupa duel satu lawan satu. Amr bin Abdul Wad ini dikenal sebagai preman yang memiliki tubuh yang kekar, sehingga ketika mendapatkan tantangan ini pasukan Islam ciut nyalinya.

Terbukti, ketika Rasulullah SAW., menawarkan kepada para sahabat, siapa yang mau melayani tantangan dari Amr bin Abdul Wad, tidak ada satu pun sahabat yang mengangkat tangan kecuali Ali bin Abi Thalib. Karena waktu itu Ali masih terlalu muda, maka Rasulullah mengulang tawarannya untuk kedua kali kepada para sahabat. Dan diulang sampai tiga kali, ternyata yang mengangkat tangan tetap Ali bin Abi Thalib.

Maka tantangan dari Amr bin Abdul Wad diterima oleh Ali bin Abi Thalib yang masih muda. Terjadilah duel yang luar biasa antara sahabat Ali dengan Amr. Ternyata, walaupun Ali masih sangat muda mampu mengimbangi keperkasaan Amr bin Abdul Wad, sehingga duel itu berlangsung seimbang. Pada satu kesempatan, sahabat Ali berhasil menyabetkan pedangnya ke paha Amr bin Abdul Wad. Sampai akhirnya Amr pun tumbang. Walaupun sudah tumbang, Amr tetap berontak.

Sebenarnya mudah saja bagi sahabat Ali untuk menumpasnya, tapi sahabat Ali pelan-pelan mendekati Amr. Ketika semakin dekat tiba-tiba Amr meludahi wajah sahabat Ali sehingga terkena pipinya. Setelah diludahi, justru sahabat Ali mundur pelan-pelan menjauh dari Amr. Sehingga para sahabat yang lain menjadi heran.

Maka ditanyalah Ali, “Wahai Ali, kenapa tidak kau bunuh saja Amr bin Abdul Wad. Kenapa justru engkau berbalik?”

Mendapat pertanyaan demikian, maka Ali pun menjawab, “Ketika dia meludahiku dan ludahnya terkenan pipiku, aku marah hebat, aku emosi luar biasa, tetapi aku tidak mau membunuh dia karena emosiku. Aku akan membunuhnya karena Allah SWT, maka aku tunggu sampai amarahku mereda”.

Sehingga pada kesempatan yang lain, Ali berhasil membunuh Amr bin Abdul Wad bukan karena amarah atau emosi, tapi semata-mata karena Allah SWT.

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Ada pelajaran yang sangat berharga dari Sayyidina Ali kw. Yang pertama, salah satu ciri orang bertakwa adalah mampu menahan amarah.

اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِيْ السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ، وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

“(Dan orang-orang yang bertakwa itu adalah) mereka yang menafkahkan hartanya, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit, dan menahan amarahnya, serta memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah adalah Dzat yang mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan,” (QS. Ali Imran: 134).

Tentu Sayyidina Ali adalah orang yang sangat bertakwa kepada Allah. Maka dia hapus amarahnya, karena dia tidak mau berbuat gegabah berdasarkan amarah atau emosinya.

Sekarang ini, banyak orang yang tidak mampu menahan amarah gara-gara urusan sepele atau urusan dunia. Dengan mudahnya, dia menganiaya, menyakiti, bahkan membunuh orang lain.

Ada murid yang tidak mampu menahan amarahnya gara-gara ditegur oleh gurunya karena dia nakal, gurunya dipukul sampai meninggal. Na’udzubillah, tsumma na’udzubillah.

Ada wali murid, yang tidak mampu menahan amarahnya gara-gara anaknya diingatkan oleh kepala sekolah, kemudian sang kepala sekolah dipukul. Na’udzubillah.

Dan berapa banyak contoh-contoh yang lain yang menunjukkan bahwa seseorang begitu mudah marah karena urusan-urusan yang sepele. Padahal Allah sangat membanggakan orang yang mampu menahan amarah.

Keutamaan Menahan Marah

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَي أَنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَي رُؤُوْسِ الْخَلَائقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخْبِرَهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيَنِ مَا شَاءَ

“Barangsiapa yang dapat menahan kemarahan, padahal dia mampu untuk melakukannya. Maka Allah Swt. akan memanggilnya kelak dihadapan para makhluk yang lain pada hari kiamat. Sehingga Allah membiarkannya untuk memilih bidadari mana yang dia sukai.”

Artinya, makhluk yang dapat menahan amarah adalah makhluk yang sangat istimewa dihadapan Allah. Sehingga dia dibanggakan oleh Allah dihadapan makhluk-Nya yang lain.

Kadang orang merasa, wajar kalau dia itu marah dan bangga terhadap kemarahannya. Membuat orang lain takut, merasa bahwa dia orang yang kuat. Padahal sesungguhnya kekuatan itu bukan terletak pada orang yang marah. Nabi SAW bersabda;

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالسُّرْعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Bukanlah orang yang kuat, yang selalu menang dalam sebuah pertarungan. Menang dalam setiap perkelahian. Sesungguhnya orang yang kuat itu adalah orang yang mampu menahan emosi, mampu menahan nafsu, ketika dia sedang marah?”

Hal itu karena sesungguhnya kemarahan itu percikan api setan. Jadi sesungguhnya orang yang sedang marah, dia dikelilingi oleh setan-setan.

pahala orang yang menahan marah

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Orang yang mencegah amarahnya maka Allah pun akan menahan siksa-Nya untuknya.

مَنْ كَفَّ غَضَبَهُ كَفَّ اللهُ عَنْهُ عَذَابَهُ

“Barangsiapa yang menahan amarahnya, maka Allah pun akan menahan siksa-Nya.”

Selama seseorang itu bisa menahan amarah, maka Allah juga menahan siksa pada hamba tersebut. Mungkin waktu-waktu terakhir ini banyak orang yang mudah marah. Apalagi ini tahun politik, tahun yang panas. Sehingga sedikit-sedikit banyak orang yang melampiaskan emosi dan amarahnya. Semoga, walaupun dalam situasi yang seperti ini, Indonesia aman dan dijauhkan dari orang-orang yang suka marah. Semoga kita dijadikan Allah mampu bersabar dan mampu menahan amarah. Semoga bermanfaat.

إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلَامِ كَلَامُ اللهِ الْمَلِكُ الْمَنَّانُ وَبِالْقَوْلِ يَهْتَدُ الْمُرْتَضُوْنَ . مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسآءَ فَعَلَيْهَا وَمَارَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيْدِ . بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ مِنَ اْلأٓيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُوْا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

*Disampaikan di Masjid Tebuireng pada 02 Februari 2018

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.