Biografi Pahlawan Muhammad Isa Anshary Putra Minangkabau

Muhammad Isa Anshary merupakan putra Minangkabau kelahiran Maninjau, Agam, Sumatra Barat, 1 Juli 1916. Beliau meninggal di Bandung, Jawa Barat, 11 Desember 1969 atau tepat pada usia 53 tahun. 

Putra Minangkabau Muhammad Isa Anshary sejak kecil dididik dalam lingkungan yang religius. Disamping mempelajari ilmu agama dari kedua orang tuanya, ia juga menimba ilmu di Surau.

Remaja

Ketika remaja ia aktif di berbagai organisasi keislaman, diantaranya PSII, Persatuan Pemuda Rakyat Indonesia, dan Indonesia Berparlemen. Pada usia 13 tahun aktif menjadi Mubaligh Muhammadiyah (tahun 1929—1931).

Pada usia 16 tahun, setelah menyelesaikan pendidikannya di Madrasah Islam, Isa merantau ke Bandung untuk mengikuti berbagai kursus ilmu pengetahuan umum. Di Bandung pula, ia memperluas cakrawala keislamannya dalam Jam’iyyah Persis hingga menjadi Ketua Umum Persis.

Ketua Persis

Tampilnya Isa Anshary sebagai pucuk pimpinan Persis dimulai pada 1940, ketika ia menjadi anggota hoofbestuur (Pimpinan Pusat) Persis. Tahun 1948, ia melakukan reorganisasi Persis yang mengalami kevakuman sejak masa pendudukan Jepang dan Perang Kemerdekaan. Tahun 1953 hingga 1960, ia terpilih menjadi Ketua Umum Pusat Pimpinan Persis.

Selain sebagai mubaligh, Muhammad Isa Anshary juga dikenal sebagai penulis yang tajam.

Beliau termasuk salah seorang perancang Qanun Asasi Persis yang telah diterima secara bulat oleh Muktamar V Persis (1953) dan disempurnakan pada Muktamar VIII Persis (1967).

Dalam sikap jihadnya, Muhammad Isa Anshary menganggap perjuangan Persis sungguh vital dan kompleks, karena menyangkut berbagai bidang kehidupan umat. Dalam bidang pembinaan kader, Isa Anshary menekankan pentingnya sebuah madrasah, tempat membina kader-kader muda Persis.

Semangatnya dalam hal pembinaan kader tidak pernah padam meskipun ia mendekam dalam tahanan Orde Lama di Madiun. Kepada Yahya Wardi yang menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Persis periode 1956-1962, Isa Anshary mengirimkan naskah “Renungan 40 Tahun Persatuan Islam” yang ia susun dalam tahanan untuk disebarkan kepada peserta muktamar dalam rangka meningkatkan kesadaran jamaah Persis.

Melalui tulisannya, Muhammad Isa Anshary mencoba menghidupkan semangat para kadernya dalam usaha mengembangkan serta menyebarkan agama Islam dan perjuangan organisasi Persis. Dalam memperjuangkan tegaknya syariat Islam di Indonesia, Isa memilih berjuang melalui parlemen. Dan melalui Partai Masyumi, ia konsisten memperjuangkan syariat Islam menjadi dasar-dasar negara.

Kiprah Muhammad Isa Ashari di Partai Masyumi

Muhammad Isa Anshary atau Kiai Isa Anshary memilih berjuang melalui parlemen. Selanjutnya partai yang dipilih adalah Partai Masyumi menjadi pilihan kendaraan politiknya.

Di bawah bendera Masyumi, ia makin memperkuat posisinya sebagai politisi. Peran politik di Masyumi begitu menonjol.

Karya Muhammad Isa Anshary

  • Islam dan Demokrasi (1938)
  • Tuntunan Puasa (1940)
  • Islam dan Kolektivisme (1941)
  • Pegangan Melawan Fascisme Jepang (1942)
  • Barat dan Timur (1948)
  • Falsafah Perjuangan Islam (1949)
  • Sebuah Manifesto (1952)
  • Ummat Islam Menghadapi Pemilihan Umum (1953)
  • Revolusi Islam (1953)
  • Inilah Partai MASYUMI (1954)
  • Islam dan Nasionalisme (1955)
  • P.K.I. Pembela Negara Asing (1955)
  • Islam Menentang Komunisme (1956)
  • Bahaya Merah di Indonesia (1956)
  • Manifes Perjuangan Persatuan Islam (1958)
  • Ke Depan Dengan Wajah Baru (1960)
  • Bukan Komunisto phobi, tapi Keyakinan Islam (1960)
  • Ummat Islam Menentukan Nasibnya (1961)
  • Pesan Perjuangan (1961)
  • Mujahid Dakwah (1966)
  • Tugas dan Peranan Generasi Muda Islam dalam Pembinaan Orde Baru (1966).
MinangkabauMuhammad Isa AnsharyPahlawan NasionalPersis