Jenis Tafsir Al Qur’an dalam Islam, Dan Contoh Kitab Tafsir yang Terkenal

Jenis Tafsir Al Qur'an dalam Islam, Dan Contoh Kitab Tafsir yang Terkenal

0

Tafsir Al-Quran merupakan ilmu pengetahuan yang harus digunakan untuk memahami dan manafsirkan ayat yang bersangkutan dengan Al-Quran dan isinya. Tafsir Al Qur’an berfungsi sebagai mubayyin (pemberi penjelasan). Mubayyin menjelaskan tentang arti dan kandungan Al-Quran, khususnya menyangkut ayat-ayat yang tidak dapat di pahami dan samar artinya.

Untuk memahami dan menafsirkan Al-Quran diperlukan tidak hanya pengetahuan bahasa Arab saja namun, juga harus mendalami berbagai macam ilmu pengetahuan yang menyangkut Al-Quran dan isinya. Ilmu ini yang dapat memahami Al-Quran disebut dengan Ushul Tafsir atau biasa dikenal dengan Ulumul Quran.

Bentuk penafsiran sendiri terdapat dua jenis yaitu at-Tafsir bi al-ma’tsur dan at-Tafsir bi-ar-ra’yi dengan menggunakan empat metode yaitu, ijmali, tahlili,muqarin dan maudhu’i. Sedangkan dari segi coraknya lebih beragam, ada yang bercorak sastra bahasa, fiqih, teologi, filsafat, tasawuf, ilmiyah dan corak sastra budaya kemasyarakatan.

Tafsir sendiri berasal dari kata al-fusru yang berarti al-ibanah wa al-kasyf yaitu menjelaskan dan menyingkap sesutu. Dalam pengertian terminologi, yang dinukil oleh Al-Hafizh As-Suyuthi dari Al-Imam Az-Zarkasyi ialah ilmu untuk memahami kitab Allah SWT yang diturunkan langsung kepada Nabi Muhammad SAW, menjelaskan makna-maknanya, menyimpulkan hikmah dan hukum-hukumnya. Nah, di bawah ini terdapat beberapa kitab yang dapat yang paling mahsyur di zaman sekarang ini.

Kitab Tafsir Al Jalalain

Tafsir Al Jalalain adalah sebuah tafsir ringkas yang ditulis oleh dua orang Al Hafiz atau Al Hafidzaan, yaitu Al Hafidz Al Mahali dan Al Hafidz As Suyuthi. Mereka berdua ini digelari dengan nama Jalaluddin, dan karena itulah kitab yang dibuatnya dinamakan Al Jalalain yaitu tafsir dari Jalaluddin Al Mahali dan Jalaludin As Suyuthi. Kemudian dikarenakan Jalaluddin Al Mahali meninggal dunia sebelum menyelesaikan tafsirnya tersebut maka tafsir Al Jalalain pun diselesaikan oleh As Suyuthi.

Kitab Tafsir Ibnu Katsir

Tafsir ibnu katsir adalah salah satu kitab tafsir yang paling banyak diterima dan tersebar di tengah umat Islam sekarang ini. Imam Ibnu Katsir menghabiskan banyak waktu dalam menyusun kitab ini, maka tidak heran jika penafsiran beliau sangat kaya dengan riwayat-riwayat, baik itu dari hadits maupun atsar. Bahkan hampir seluruh hadits periwayatan dari Imam Ahmad bin Hanbal ra. Dalam kitab Al Musnad juga tercantum di dalam kitab tafsir ini.

Kitab tafsir ini memiliki metode penyusunan dengan cara menyebutkan ayat terlebih dahulu, baru kemudian menjelaskan tentang makna secara umum. Selanjutnya menafsirkannya dengan ayat, hadits, perkataan para sahabat dan para tabi’in.

Beliau juga terkadang menjelaskan seputar hukum yang berkaitan dengan ayat, tentu saja dengan dukungan dalil lain dari Al-Quran dan hadits serta dilengkapi dengan pendapat para ahli Fiqih. Apabilah masalah itu dikhilafkan diantara mereka, selanjutkan imam ibnu katsir akan merajihkan (memilih dan menguatkan) salah satu pendapat tersebut.

Kitab Tafsir Al-Maraghi

Kitab tafsir ini sangat menarik sekaligus kontroversial, karena kitab ini ditulis oleh ulama modern yang pemikirannya dianggap dekat dengan kaum mu’tazilah.

Kitab tafsir ini berisi ulasan kontemporer karya ulama besar Universitas Al-Azhar Mesir, Syaikh Ahmad Musthafa Al-Maraghi. Kitab tafsir Al-Maraghi terbagi dalam 10 jilid yang diterbitkan untuk pertama kalinya di Maktabah al-Babi al Halabi (Kairo) pada tahun 1369 H.

Walaupun di kalangan penganut tafsir salaf dianggap sebagai kitab kontroversial dan banyak ditinggalkan, kitab tafsir ini sangat digemari oleh para pelajar yang mengkaji tafsir di bangku perguruan tinggi. Gaya penafsirannya pun dianggap modern, yakni berusaha menggabungkan berbagai madzhab penafsiran, terutama metode tafsir bil ma’tsur (berdasarkan hadits) dan tafsir bir ra’yi (berdasarkan logika), yang dianggap mengundang kontroversi.

 

Kitab Tafsir al-Kasysyaf

Penafsiran yang ditempuh al-Zamakhsyari dalam karyanya ini sangat menarik, dikarenakan uraiannya singkat dan jelas. Sehingga para ulama Mu’tazilah mengusulkan agar tafsir ini dipresentasikan kepada para ulama Mu’tazilah dan mengusulkan agar penafsirannya dilakukan dengan corak i’tazali. Hasilnya adalah tafsir al-Kasysyaf yang ada pada sekarang ini.

Pada tahun 1986, kitab tafsir al-Kasysyaf ini dicetak ulang pada percetakan Musthafa al-Babi al-Halabi, di Mesir yang terdiri dari empat jilid. Kitab tafsir al-Kasysyaf berisi penafsiran secara runtun berdasarkan tertib para mushafi, yang terdiri 30 juz 144 surat, mulai dari surat al-Fatihah hingga An-nas.

Setiap surat diawalai dengan basmalah kecuali surat at-Taubah. Di jilid pertama diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat al-Maidah. Jilid kedua diawali dengan surat Al-an’am dengan surat al-Anbiya. Di jilid ketiga di awali dengan surat al-Hajj dan diakhiri dengan surat al-Hujurat. Dan jilid keempat diawali dengan surat Qaf dan diakhiri dengan surat An-nass.

Kitab Tafsir al-Mizan

Tafsir al-Mizan ini disusun oleh Allamah Sayyid Muh Husain Thabathabai, beliau adalah seorang ulama iran. Motivasi beliau yang mendorong untuk menulis kitab tafsir al-Mizan ini adalah karena beliau ingin mengajarkan dan menafsirkan Al-Quan yang mampu mengantisipasi gejolak rasionalitas pada masanya.

Di sisi lain, dikarenakan gagasan-gagasan matrealistik telah sangat mendominasi. Ada kebutuhan yang sangat besar akan wacana rasional dan filosofis yag akan memungkinkan hawzah mengkolaborasikan prinsip-prinsip intelektual dan doktrinal dalam Islam dengan menggunakan argumen rasional dalam rangka mempertahankan posisi Islam pada saat itu.

Menurut al-Alusi nama al-Mizan diberikan oleh Thabathaba’i dikarenakan di dalam kitab tafsirnya dikemukakan berbagai pandangan para mufassir. Beliau pun memberikan sikap kritis serta menimbang pandangan mereka baik untuk diterimanya maupun ditolaknya. Walaupun tidak secara eksplisit memberikan nama ini, namun pernyataan yang diberikan oleh Thabathaba’i secara implisit memang mengarahkan pada penamaan al-Mizan tersebut.

 

Sumber satuJam | SantriLucu. WordPress

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.