Solusi Banjir. Begini Perbedaan Normalisasi dan Naturalisasi Sungai

Musim penghujan terlambat datang tahun ini. Dari prediksi sekitar bulan Oktober atau November. Di Indonesia baru terasa merata di akhir bulan Desember 2019.

Curah hujan yang melebihi kapasitas kota, tak pelak dari banjir, seperti terjadi di Jabodetabek mengawali tahun baru 1 Januari 2020. Akibat memang baru terasa setelah kejadian. Banjir kali ini memakan korban dari masyarakat. Beberapa warga meninggal dunia. Sedih membaca berita pagi ini…

Tentu masalah banjir tidak hanya di ibukota di beberapa daerah bahkan diperumahan-perumahan dengan sanitasi jelek sangat memungkinkan untuk banjir. Desain perumahan yang mengamankan lingkungannya sendiri sudah dipastikan tetangga kampung akan mengalami dampak banjirnya.

Sistem sanitasi yang terintegrasi sebenarnya sudah dicontohkan sejak zaman Belanda. Penjajah Indonesia ini meninggalkan bangunan sanitasi dalam jumlah banyak, dengan ciri-ciri terintegrasi dan besar. Mungkin saat itu sudah memikirkan banjir ya ….)

Tentu bukan saatnya menyalahkan dalam kondisi seperi ini. Akan lebih baik kita cari solusinya bersama-sama. Edukasi dasar kepada masyarakat tentang membuang sampah sambarang sudahkah kita laksanakan (sebagai bahan instropeksi tentunya)

Naturalisasi dan Normalisasi

Dikutip dari pernyataan pengamat tata kota Universitas Trisakti, Nirwono Joga, menjelaskan, normalisasi dalam pengertian yang telah direalisasikan oleh Pemprov DKI adalah melakukan pelebaran sungai dengan memindahkan masyarakat sekitar. Pinggiran sungai dilakukan betonisasi.

Pengertian naturalisasi sendiri merupakan penataan bantaran sungai yang lebih ramah lingkungan. Konsep naturalisasi memperlebar sungai dengan mengikuti bentuk alur sungai. Berbeda dari konsep normalisasi dengan betonisasi, naturalisasi  memanfaatkan ekosistem hijau di mana di pinggiran sungai ditanamani pohon.

Dua istilah tersebut tentu bukan satu-satunya solusi dari banjir yang menimpa Jabodetabek atau daerah lain di Indonesia.

“Curah hujan kemarin adalah yang tertinggi selama 24 tahun terakhir berdasarkan data sejak 1996,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati seperti dikutip detikcom, Kamis (2/1/2020).

Selain itu arus hulu ke hilir yang melibatkan banyak kota dan banyak sumber sungai tentu menambah komplek masalah banjir di wilayah Jabodetabek atau daerah lainnya.

Jadi…..selain kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan sambil menunggu solusi terbaik dari hasil kajian lembaga yang berwenang. Tidak ada salahnya sebagai masyarakat bergotong-royong membersihkan dan melebarkan aliran-aliran air yang sudah ada sehingga setidaknya kita sudah melakukan sesuatu.

Terima kasih juga kepada semua relawan yang selalu siaga saat bencana

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.