INITU.ID – Saya teringat masa sekolah dulu. Sejak SD, SMP, hingga SMA, praktik perundungan atau bullying sering kali menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Biasanya dilakukan oleh mereka yang merasa lebih kuat terhadap yang dianggap lebih lemah.
“Yang kuat” pada masa itu bisa berarti berasal dari keluarga yang lebih mampu, memiliki prestasi olahraga yang menonjol, atau unggul dalam bidang akademik. Sementara yang dianggap lemah sering menjadi sasaran ejekan, bahkan dikucilkan. Sayangnya, budaya seperti itu tumbuh cukup subur pada generasi saya.
Saya tidak tahu apakah kondisi di sekolah saat ini sudah jauh lebih baik. Semoga demikian. Sebab berbagai penelitian menunjukkan bahwa bullying bukan sekadar candaan. Dampaknya dapat memengaruhi kesehatan mental, kepercayaan diri, hingga perkembangan sosial seseorang dalam jangka panjang.
Namun yang menarik, ketika memasuki dunia profesional dan kehidupan bermasyarakat, saya justru melihat pola yang hampir serupa muncul dalam bentuk yang berbeda.
Belakangan ini, istilah “homeless media” cukup masif digunakan untuk menyebut pengelola akun media sosial yang aktif menyebarkan informasi dan berita, tetapi tidak memiliki rumah utama berupa media konvensional atau website berita. Bahkan istilah tersebut mulai digunakan dalam sejumlah diskusi akademik maupun forum komunikasi media.
Jujur saja, saya sering bertanya-tanya: apakah ini bentuk baru dari budaya merendahkan yang dulu kita kenal sebagai bullying?
Mungkin tidak semua orang yang menggunakan istilah tersebut memiliki niat buruk. Namun kita perlu menyadari bahwa setiap istilah yang memiliki konotasi negatif berpotensi menciptakan stigma. Dan stigma pada akhirnya akan melahirkan sekat yang tidak perlu.
Padahal, jika melihat perkembangan ekosistem informasi saat ini, peran para pengelola media sosial justru semakin penting.
Data dari berbagai lembaga riset digital menunjukkan bahwa masyarakat kini lebih banyak mengakses informasi melalui platform media sosial dibandingkan langsung mengunjungi situs berita. Laporan Digital Indonesia dari We Are Social dan Meltwater dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa mayoritas pengguna internet Indonesia menggunakan media sosial sebagai salah satu sumber utama untuk memperoleh informasi harian.
Fenomena ini berdampak langsung pada media arus utama. Tidak sedikit perusahaan media yang mengalami penurunan trafik website secara signifikan akibat perubahan perilaku audiens. Bahkan dalam berbagai forum industri media, beberapa pengelola media nasional mengakui bahwa trafik organik mereka menurun drastis dibandingkan masa kejayaan satu dekade lalu.
Perubahan perilaku konsumsi informasi tersebut bukan berarti media konvensional kehilangan relevansinya. Sebaliknya, ini menunjukkan bahwa lanskap media sedang berubah.
Karena itu saya lebih sepakat dengan istilah “New Media” yang beberapa waktu lalu juga digunakan dalam sejumlah diskusi komunikasi publik. Istilah ini terasa lebih netral, lebih ilmiah, dan lebih mencerminkan realitas perkembangan teknologi informasi saat ini.
Sebab faktanya, banyak pengelola media sosial saat ini telah bertransformasi. Mereka tidak lagi sekadar membuat konten hiburan atau membagikan ulang informasi. Banyak yang sudah memiliki website, badan hukum, tim redaksi, hingga sistem verifikasi informasi sendiri.
Tidak sedikit pula yang melakukan peliputan langsung di lapangan. Bahkan dalam beberapa kasus, informasi pertama mengenai suatu kejadian justru muncul dari warga atau pengelola media sosial lokal sebelum kemudian diangkat oleh media arus utama. Kecepatan distribusi informasi inilah yang menjadi salah satu kekuatan utama ekosistem media digital saat ini.
Memang masih ada tantangan besar terkait legalitas, standar jurnalistik, dan akurasi informasi. Kritik terhadap aspek tersebut tentu penting dan perlu disampaikan. Namun kritik akan jauh lebih produktif jika disampaikan melalui edukasi, pendampingan, dan kolaborasi, bukan melalui pelabelan yang berpotensi merendahkan.
Pandangan ini juga sempat saya sampaikan dalam diskusi Indonesia Social Media Network (ISMN) di Surabaya pada 4 Juni 2026. Menurut saya, tantangan dunia informasi hari ini bukan lagi soal siapa yang paling besar atau paling lama berdiri, tetapi bagaimana seluruh ekosistem media dapat bekerja sama menghadapi banjir informasi, disinformasi, dan perubahan perilaku audiens yang sangat cepat.
Pada akhirnya, dunia media membutuhkan kolaborasi, bukan polarisasi.
Jangan mudah meremehkan pihak lain hanya karena model bisnis, platform, atau latar belakangnya berbeda. Sebab dalam banyak kesempatan, mereka yang hari ini dianggap kecil atau kurang penting justru bisa menjadi mitra strategis di masa depan.
Mari membangun budaya saling menghormati, saling belajar, dan saling menguatkan. Karena tujuan kita sebenarnya sama: menghadirkan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Salam persahabatan,
Danil Setiawan
Pegiat Media Sosial, Kota Pudak Gresik
