INITU.ID – Apakah kampanye digital Anda benar-benar berdampak, atau justru berbalik arah seperti bumerang? Fenomena boomerang effect bisa menjadi penjelasan mengapa strategi yang tampaknya cerdas justru menghasilkan efek negatif. Dalam artikel ini, kita akan membahas pengertian istilah “boomerang effect” dalam dunia digital, lengkap dengan contoh, data, dan cara menghindarinya.
Pengertian Istilah “Boomerang Effect”
Boomerang Effect adalah fenomena psikologis dan komunikasi di mana pesan yang disampaikan, justru menghasilkan efek sebaliknya dari yang diharapkan. Dalam dunia digital, ini terjadi saat pesan pemasaran, kampanye sosial, atau komunikasi publik justru menimbulkan penolakan, bahkan kritik, dari audiens.
Istilah ini berasal dari analogi bumerang—alat lempar yang kembali ke pelemparnya. Dalam konteks digital, ini berarti strategi yang kembali menyerang pembuatnya sendiri.
BACA JUGA: Boom Influencer Lokal! Strategi Cerdas UMKM dan Brand di Tengah Ledakan Pemasaran Digital 2025
Contoh Boomerang Effect di Era Digital
- Kampanye Brand yang Tidak Konsisten
Misalnya, brand fashion yang mempromosikan kesadaran lingkungan tapi ketahuan mengeksploitasi buruh di negara berkembang. Alih-alih dipuji, brand tersebut malah dikritik karena dianggap melakukan greenwashing. - Influencer yang Terlalu Jualan
Yang perlu dicatat menurut studi Nielsen tahun 2022, sebanyak 67% Gen Z lebih percaya review netral dibanding promosi dari influencer. Selanjutnya Jika dianggap terlalu “dibayar”, promosi malah membuat audiens ilfeel. - Iklan Politik yang Menyerang
Penelitian Journal of Political Marketing (2021) menunjukkan bahwa iklan politik negatif justru bisa memperkuat loyalitas kepada pihak lawan, bukan menurunkannya.
Data yang Mendukung Terjadinya Boomerang Effect
- Menurut Harvard Business Review, 1 dari 5 kampanye media sosial menimbulkan backlash akibat ketidaksesuaian antara narasi dan realitas.
- Laporan Deloitte (2023) mencatat 74% konsumen meninggalkan brand yang memaksakan nilai-nilai moral yang tidak mereka jalankan secara internal.
- Studi HubSpot (2024) menunjukkan bahwa berkampanye dengan nada “memaksa” memiliki tingkat engagement 38% lebih rendah dibanding narasi yang natural dan humanis.
Penyebab Utama Boomerang Effect
- Psikologi Resistensi: Audiens merasa ditekan dan cenderung melakukan penolakan.
- Kurangnya Kredibilitas: Pesan dianggap tidak layak dipercaya.
- Overexposure: Terlalu sering terpapar pesan yang sama memunculkan kejenuhan bahkan penolakan.
Tips Menghindari Boomerang Effect
- Kenali Audiens Secara Mendalam
Pahami preferensi, nilai, dan sensitivitas mereka sebelum membuat narasi kampanye. - Bangun Narasi Otentik
Hindari jargon atau pesan moral yang tidak sesuai dengan praktik sebenarnya. - Gunakan Strategi A/B Testing
Uji beberapa versi pesan sebelum dipublikasikan secara luas. - Fokus pada Komunikasi Dua Arah
Alih-alih memaksa pesan, ajak audiens berdialog melalui komentar, polling, atau survei ringan.
Kesimpulan
Boomerang Effect dalam dunia digital bukan hanya mitos, melainkan realita yang bisa menimpa siapa saja—baik brand besar, figur publik, hingga kampanye politik. Dengan memahami penyebab dan indikatornya, serta menerapkan pendekatan yang lebih empatik dan strategis, Anda bisa meminimalisasi risiko ini dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan audiens.
